Jalan Raya Jakarta Bogor KM. 37, Cilodong – Depok 16415
Telp. 021 – 2962 9393 / 021 – 2962 9394
Faks. 021 – 2962 9395
Email : info@aaslaboratory.com
Hotline :+62811-1939-330
Depok, Mei 2026 - Akhir - akhir ini kasus infeksi Hantavirus kembali menjadi perhatian setelah dilaporkan terjadi pada kapal ekspedisi MV Hondius yang mengakibatkan 3 orang meninggal dunia. Kejadian ini mengingatkan bahwa penyakit yang berasal dari hewan masih menjadi ancaman kesehatan global, terutama ketika pengawasan terhadap vektor penyakit dan binatang pembawa penyakit di lingkungan belum optimal.
Hantavirus merupakan kelompok virus yang dibawa oleh hewan pengerat (rodent) seperti tikus. Virus ini dapat menyebabkan penyakit serius pada manusia, terutama melalui paparan lingkungan yang terkontaminasi oleh urine, kotoran, atau air liur rodent yang terinfeksi. Penyakit ini termasuk dalam kategori Zoonosis, yaitu penyakit yang dapat menular dari hewan ke manusia.
Penularan Hantavirus ke manusia umumnya terjadi melalui kontak dengan urine, kotoran, atau air liur rodent yang terinfeksi. Virus dapat masuk ke tubuh ketika seseorang menghirup partikel virus di udara yang berasal dari kotoran rodent yang terkontaminasi. Infeksi juga dapat terjadi melalui gigitan rodent, meskipun kasusnya lebih jarang.
Risiko paparan meningkat pada aktivitas yang melibatkan kontak dengan rodent, seperti membersihkan ruang tertutup atau kurang ventilasi yang terkontaminasi tikus, kegiatan pertanian, pekerjaan kehutanan, atau tinggal di tempat dengan infestasi rodent.
Dalam upaya pencegahan penyakit zoonosis, pemahaman terhadap binatang pembawa penyakit menjadi langkah yang sangat penting. Binatang pembawa penyakit adalah hewan yang menjadi tempat hidup dan berkembangnya patogen sebelum menular ke manusia.
Melalui kegiatan survei binatang pembawa penyakit, keberadaan patogen pada hewan pembawa dapat dideteksi lebih dini. Informasi ini sangat penting untuk:
1. Mengidentifikasi potensi sumber penularan penyakit
2. Memantau dinamika populasi hewan pembawa penyakit
3. Mendukung sistem kewaspadaan dini terhadap penyakit menular
4. Menyusun strategi pengendalian yang lebih efektif
Pendekatan ini sejalan dengan kebijakan kesehatan di Indonesia yang tertuang dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023, yang menekankan pentingnya surveilans pada vektor penyakit, binaatang pembawa penyakit, dan lingkungan sebagai bagian dari upaya pencegahan wabah.
Menjaga kesehatan lingkungan dan masyarakat dimulai dari memahami kondisi ekosistem di sekitar kita. Melalui layanan survei reservoir penyakit dan pengujian laboratorium yang akurat. Sebagai laboratorium penyedia jasa pengujian lingkungan, AAS Laboratory berkomitmen untuk mendukung upaya pemantauan dan pencegahan penyakit zoonosis di Indonesia.
Dengan pemantauan yang tepat dan berbasis data ilmiah, potensi risiko penyakit dapat diidentifikasi lebih awal sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara lebih efektif.
Kembali ke Berita